Sabtu, 26 Mei 2012

Setengah jam Bersama Kernet Bus


Hari itu kuliah libur, bangun telat buah dari begadang semalam. Kulihat layar HP, ada beberapa sms yang intinya sama “Ratna, ayo, ditunggu” Rasa tak enak pun muncul, harus gerak cepat. Setelah siap berangkat ternyata motor tidak ada di tempat. Cukup lama aku menunggu, motor tak kunjung pulang. Sampai aku mendapat kabar bahwa teman yang lain sudah on the way. Yah, sudahlah tidak jadi ikut, toh kalau nyusul aku tak tahu jalan.  

Masih duduk termenung di ruang tamu, dengan pakaian rapi dan tas ransel di punggung. Sayang juga kalau sudah berbaju rapi tapi tidak jadi pergi. Dan tiba-tiba teringat tugas antropologi. Tugas wawancara kenek bus. Hyaa, tanpa pikir panjang segera ku pakai sepatuku dan bergegas ke pasar.

Ya, seperti mengulang masa putih abu-abu dulu, tiga tahun selalu berada di tempat ini demi menunggu satu-satunya angkutan umum yang tepat berhenti di depan SMA ku dulu. Hari itu aku pun menunggu bus yang sama demi bisa berbincang dengan  pak kenek. Setelah limabelas menit menunggu, akhirnya dating juga. Segera aku bergegas masuk. Sepi memang.  Di dalam bus hanya ada aku d satu penumpang lain.Bagaimana tidak sekarang semua orang mengendarai motor.

Hm, seperti biasa, busnya masih lama ngendon di depan pasar. Di bangku paling belakang aku duduk agar dapat melancarkan aksiku mendekati pak keneknya. Setelah beberapa saat kemudian supir dan keneknya masuk bus. Oops mas keneknya gahar.. telinga ber-anting dan tangan ber-tatto. Tenang, tidak takut, badannya kecil kok.haha..

Aku pun mulai melakukan building raport, istilahnya basa-basi lah sebelum menuju ke inti pembicaraan. Masnya menanggapi dengan welcome. Dengan bahasa Jawa Ngoko aku mulai bertanya-tanya.
…..
Aku        : Biasane sedinane oleh pira Mas?
Mas       : Wah yo ra tentu Mbak. Paling pol-pol e biasane yo 300-an. Urung kui disetorke juragane    150, nggo ngisi solar 120.
Aku        : la terus sampean nggowo bali duit piro Mas?
Mas       : biasane yo 25, perkoro yo dong-dong nek gek pas sepi kae blas ra gowo bali duit. Entek nggo setor ro solar.
Aku        : 25 kui nek nggo bensin,mangan ro rokok ngono, terus bali gowo duit piro?
Mas       : bok, mbak. Wes ra nggowo opo-opo. Entek.
Aku        : seneng lan susah e dadi kenek opo Mas?
Mas       : susah e akeh mbak, mangkat jam 3 esuk, ngecek kondisi mesin, mangkat ngenek, bali jam 5. Urung ngko nek penumpange sepi, hasil e entek nggo setor, mulih ra gowo opo-opo. Nek senenge yo iso ndelok ngendi-endim, ndelok uwong, oleh hawa ora gur lungguh neng njero kantor.
Aku        : sok stress ora sih mas mergo gawean ngono?
Mas       : a yo digawe semeleh mbak, rejeki wis diatur sik kuasa kok. Digawe penak.
Aku        : biasane hiburanne ngopo mas nek bar ngenek ngono?
Mas       : yo paling mung kumpul-kumpul ro kenek liane, ngopi-ngopi, ngono we njuk mari Mbak.
Aku        : :D, oiyo Mas, asmanipun sinten?
Mas       : Sodron Mbak.
Aku        : sinten? Sodron?
Mas       : yo, S O D R O N Z
Aku        : hehehe, nganggo Z
……..

Setelah berbincang-bincang dari pasar Godean hingga Pojok Beteng, aku mendapatkan banyak hal dari mas kenek tadi:
  1.        Hidup ini harus bekerja keras karena “Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)
  2.        Berjuang untuk selalu bangun pagi untuk menyambut rizki dari Alloh. Seperti sabda Rasulullah saat melihat putrinya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari,”Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Alloh membagikan rizkinya setiap hari pada waktu antara mulai subuh sampai terbit matahari” (H.R Al-Baihaqi).
  3.        Harus selalu bersyukur atas nikmat Alloh, Karena “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
  4.      Serta qonaah atau nerimo. ‘Dengan sifat qonaah maka sama seperti raja dunia’, begitu kata imam Syafi’i

Senin, 12 Maret 2012

Biografi: Bandura

Bagi orang-orang yang menggeluti bidang psikologi, nama Bandura pasti tidak asing lagi bagi mereka. Tokoh yang termasuk aliran behavioristik ini  lahir di Mandure, kota kecil di dataran rendah sebelah utara Alberta, pada tanggal 4 Desember 1925. Bandura adalah anak terakhir dari lima bersaudara.

Oleh keluarganya, Bandura dididik menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Apalagi dia sekolah tingkat SMA di sebuah kota kecil yang hanya memiliki sedikit guru. Situasi ini tidak menjadikannya malas bersekolah. Justru menjadikannya semangat untuk menuntut ilmu.

Setelah lulus SMA, Bandura bekerja di tempat pembuatan jalan di Yukon selama musim panas. Di tempat kerjanya, Bandura mendapatkan berbagai pengalaman. Dia melihat berbagai karakter pekerja kasar. Ada dari mereka adalah para pengutang yang melarikan diri karena tak mampu membayar utang, laki-laki yang sudah bercerai namun masih harus memberi tunjangan mantan istri dan lain sebagainya. Melihat berbagai fenomena psikopatologi rekan kerjanya, Bandura tertarik belajar psikologi klinis.

Awalnya Bandura berniat untuk mendaftarkan kuliah di jurusan teknik. Selesai mendaftar di jurusan teknik yang disenanginya itu, dia berjalan-jalan keliling kampus. Hanya berniat coba-coba, Bandura masuk ke ruang kuliah psikologi. Sejak saat itu Bandura merasa nyaman dengan psikologi. Beberapa hari kemudian dia mengubah lamaran kuliahnya dari teknik menjadi psikologi. Dan akhirnya dia kuliah psikologi di University of British Columbia.

Setelah tiga tahun kuliah, ia lulus S1. Bandura melanjutkan S2 bidang psikologi klinis di University of Iowa. Dan pada tahun 1951, dia pun sudah bergelar Ph.D di usianya yang ke-27. Kemudian dia menghabiskan satu tahun berikutnya di Wichita Guidance Center untuk menyelesaikan tugas pasca-doctoralnya. Pada tahun1953, dia bergabung dengan fakultas psikologi di Stanford University, tempatnya berkarya seumur hidup. 

Di awal publikasinya, kebanyakan tulisan Bandura membahas psikoterapi dan tes Rorschach. Tahun 1959, buku yang ditulis bandura bersama Walters yang berjudul Adolescent Aggression terbit. Karya Bandura yang lain meliputi  Social Learning Theory (1977), Social Foundation of Though and Action (1986), dan Self Efficacy:The Excercise of Control (1997).

Pada tahun 1974, Bandura dipercaya menjadi presiden APA (American Psychological Association), kemudian pada tahun1980 menjadi presiden WPA (Western Psychological Association), dan menjadi presiden kehormatan Canadian Psychological Association tahun1999. Selain itu, Bandura juga banyak mendapat gelar kehormatan, salah satunya terpilih menjadi Rekanan Kehormatan American Academy of Arts and Science sejak 1980.

Berikut ini sekilas tayangan powerpoint tentang teori-teori Bandura
download di sini

Source: Feist & Feist. (2006).Theories of Personality.NewYork:McGraw Hill

Minggu, 05 Februari 2012

Menapak Nglanggeran di Kala Hujan


Hari ini, lelah tak terasa. Semua terbayarkan oleh cantiknya gunungan batu-batu purba dengan selipan pohon-pohon rimbun yang tinggi menjulang. Yah, kami bertiga sudah merencanakan sebulan yang lalu untuk menjamah entah sebuah bukit atau gunung purba mereka menyebutnya. Tapi baru saat ini kami diberi kesempatan menikmati ciptaan-Nya itu. Bukit tersebut terletak di Desa Nglanggeran Patuk Gunungkidul. Cuma itu yang saya tahu, profil secara geologis dan lain-lain entahlah saya tak tahu (mungkin bisa cari tahu di sini). 

Oke, saya akan ceritakan apa yang kami alami saja. Setengah sebelas kami sampai di Kawasan ekowisata. Langsung kami menghampiri mas-mas penjaga loket untuk membayar tiket masuk dan parkir. Namanya mas-mas pasti ya masih muda (penting nggak sih). Yang saya tahu sepertinya mas-mas tadi itu adalah warga setempat (karang taruna) yang diberdayakan untuk mengelola gunung tersebut. Acungkan jempol lek dis untuk pemuda pemudi Nglanggeran!!! (y) *apaan sih kehebohan deh. Dua makhluk tak bernyawa (baca:motor) dan tiga makhluk bernyawa (baca:kami) dikenai biaya Rp 17.000,00 entah perincian berapa harga tiket masuk dan berapa harga parkir aku lupa. 

Kami mulai mendaki dalam keadaan langit yang cerah wal afiat. Meski belum pada makan, kami merasa sudah memiliki energi yang cukup untuk menginjakkan kaki di puncak Nglanggeran. Kenapa? ya. karena  puncak Nglanggeran menjanjikan pesona awan dan alam maha karya sang Kuasa, dan ini memberikan semangat untuk kami segera menaikinya.

Batu dan juga lempung menjadi komponen utama bukit nan seksi ini. jalur pendakian tidak terlalu sulit karena  sudah ada anak tangga alakadarnya dan benda penolong seperti tali. Saat naik tanah lempung terlihat segar dan sisa hujan semalam menyisakan tetes air di dinding batu maupun didedaunan. Dan lelah belum terasa.


Perjalanan kami lanjutkan. Tampak di depan kami gang sempit dengan anak tangga terbuat dari kayu. Kami pun bergegas naik. Merangkak naik di antara rekahan batu yang kira-kira lebarnya 60 cm sungguh menyenangkan terlebih lagi terkena tetes-tetes air dari bebatuan atasnya.


Seperempat perjalanan, kami melihat hamparan cukup luas untuk menikmati bentangan sawah di bukit-bukit dengan model terasering. Kami pun istirahat sejenak di situ. Meneguk air mineral dan menikmati roti isi cokelat. Tampak di depan saya menara-menara pemancar stasiun televisi berdiri kokoh. Hoyeah, ini yang namanya surga dunia. Disuguhi terpaan angin bukit dan panorama yang maha dahsyatnya. Tapi mengapa tiba-tiba mendung menggantung mengisyaratkan akan turun hujan?.Angin juga semakin kencang. Kami mencoba untuk tidak panik. Air hujan adalah hal biasa jika ingin bersahabat dengan alam (ecieeh..sok pecinta alam).




Kami segera mengeluarkan kostum hujan. Ingin memastikan apakah ini hujan benar-benar hujan, kami pun berdiam sejenak. Anginnya kencang sekali namun rintik hujan baru sebesar telur kutu rambut. Dua yang lainnya duduk merenung, saya pun berdiri dan mencoba mengabadikan pose model galau mereka.


Oh ternyata mendung benar-benar membawa hujan. Sangat merugi jika waktu hanya dihabiskan untuk duduk melihat hujan. Kami kembali melanjutkan perjalanan di bawah naungan ponco. Hujan pun semakin deras. Lempung pun semakin becek dan licin. Akhirnya setelah kira-kira satu jam, kami sampailah ke puncak Nglanggeran. Tetap dengan rintik hujan meski sudah sedikit lebih tipis...YEAHH  SUBHANALLOH NIKMAT NGLANGGERAN DI TENGAH RINAI HUJAN. Waktunya meng-gak jelas-kan diri :) see  you :D




04/02/12