Hari itu kuliah libur, bangun
telat buah dari begadang semalam. Kulihat layar HP, ada beberapa sms yang
intinya sama “Ratna, ayo, ditunggu” Rasa tak enak pun muncul, harus gerak
cepat. Setelah siap berangkat ternyata motor tidak ada di tempat. Cukup lama
aku menunggu, motor tak kunjung pulang. Sampai aku mendapat kabar bahwa teman
yang lain sudah on the way. Yah, sudahlah tidak jadi ikut, toh kalau nyusul aku
tak tahu jalan.
Masih duduk termenung di ruang
tamu, dengan pakaian rapi dan tas ransel di punggung. Sayang juga kalau sudah
berbaju rapi tapi tidak jadi pergi. Dan tiba-tiba teringat tugas antropologi.
Tugas wawancara kenek bus. Hyaa, tanpa pikir panjang segera ku pakai sepatuku
dan bergegas ke pasar.
Ya, seperti mengulang masa putih
abu-abu dulu, tiga tahun selalu berada di tempat ini demi menunggu satu-satunya
angkutan umum yang tepat berhenti di depan SMA ku dulu. Hari itu aku pun
menunggu bus yang sama demi bisa berbincang dengan pak kenek. Setelah limabelas menit menunggu,
akhirnya dating juga. Segera aku bergegas masuk. Sepi memang. Di dalam bus hanya ada aku d satu penumpang lain.Bagaimana
tidak sekarang semua orang mengendarai motor.
Hm, seperti biasa, busnya masih
lama ngendon di depan pasar. Di bangku paling belakang aku duduk agar dapat
melancarkan aksiku mendekati pak keneknya. Setelah beberapa saat kemudian supir
dan keneknya masuk bus. Oops mas keneknya gahar.. telinga ber-anting dan tangan
ber-tatto. Tenang, tidak takut,
badannya kecil kok.haha..
Aku pun mulai melakukan building raport, istilahnya basa-basi
lah sebelum menuju ke inti pembicaraan. Masnya menanggapi dengan welcome. Dengan bahasa Jawa Ngoko aku
mulai bertanya-tanya.
…..
Aku : Biasane sedinane oleh pira Mas?
Mas : Wah yo ra tentu Mbak. Paling pol-pol e biasane yo 300-an. Urung
kui disetorke juragane 150, nggo ngisi solar 120.
Aku : la terus sampean nggowo bali duit piro Mas?
Mas : biasane yo 25, perkoro yo dong-dong nek gek pas sepi kae
blas ra gowo bali duit. Entek nggo setor ro solar.
Aku : 25 kui nek nggo bensin,mangan ro rokok ngono, terus bali
gowo duit piro?
Mas : bok, mbak. Wes ra nggowo opo-opo. Entek.
Aku : seneng lan susah e dadi kenek opo Mas?
Mas : susah e akeh mbak, mangkat jam 3 esuk, ngecek kondisi mesin,
mangkat ngenek, bali jam 5. Urung ngko nek penumpange sepi, hasil e entek nggo
setor, mulih ra gowo opo-opo. Nek senenge yo iso ndelok ngendi-endim, ndelok
uwong, oleh hawa ora gur lungguh neng njero kantor.
Aku : sok stress ora sih mas mergo gawean ngono?
Mas : a yo digawe semeleh mbak, rejeki wis diatur sik kuasa kok. Digawe
penak.
Aku : biasane hiburanne ngopo mas nek bar ngenek ngono?
Mas : yo paling mung kumpul-kumpul ro kenek liane, ngopi-ngopi,
ngono we njuk mari Mbak.
Aku : :D, oiyo Mas, asmanipun sinten?
Mas : Sodron Mbak.
Aku : sinten? Sodron?
Mas : yo, S O D R O N Z
Aku : hehehe, nganggo Z
……..
Setelah berbincang-bincang dari
pasar Godean hingga Pojok Beteng, aku mendapatkan banyak hal dari mas kenek
tadi:
- Hidup ini harus bekerja keras karena “Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)
- Berjuang untuk selalu bangun pagi untuk menyambut rizki dari Alloh. Seperti sabda Rasulullah saat melihat putrinya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari,”Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Alloh membagikan rizkinya setiap hari pada waktu antara mulai subuh sampai terbit matahari” (H.R Al-Baihaqi).
- Harus selalu bersyukur atas nikmat Alloh, Karena “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
- Serta qonaah atau nerimo. ‘Dengan sifat qonaah maka sama seperti raja dunia’, begitu kata imam Syafi’i
Tidak ada komentar:
Posting Komentar