SCHIZOPHRENIA
Skizofrenia merupakan penyakit otak yang timbul akibat ketidakseimbangan pada dopamin, yaitu salah satu sel kimia dalam otak. Ia adalah gangguan jiwa psikotik paling lazim dengan ciri hilangnya perasaan afektif atau respons emosional dan menarik diri dari hubungan antarpribadi normal. Sering kali diikuti dengan delusi (keyakinan yang salah) dan halusinasi (persepsi tanpa ada rangsang pancaindra). Skizofrenia bisa mengenai siapa saja. Data American Psychiatric Association (APA) tahun 1995 menyebutkan 1% populasi penduduk dunia menderita skizofrenia.
Gejala Positif Penderita Skizoprenia
Berikut ini adalah deskripsi mengenai gelaja-gejala “positif” penderita skizoprenia, yang merupakan tanda-tanda yang lebih jelas dari psikosis. Ini termasuk pengalaman delusi dan halusinasi yang mengganggu.
Delusi
Delusi merupakan gejala psikotik yang melibatkan gangguan isi pikiran dan adanya keyakinan kuat, yang merupakan misrepresentasi dari kenyataan. Keyakinan oleh kebanyakan anggota masyarakat dianggap sebagai misinterpretasi terhadap realitas disebut disorder of thought content (gangguan isi pikiran), atau delusi. Karena pentingnya delusi dalam skizoprenia, delusi pernah disebut sebagai “the basic characteristic of madness”. Bila misalnya anda percaya bahwa tupai adalah alien yang dikirim ke Bumi untuk misi mata-mata, maka anda akan dianggap delusional.
Media sering menggambarkan penderita skizoprenia sebagai orang yang percaya bahwa dirinya adalah orang yang terkenal dan penting, seperti merasa diri seperti Tuhan, atau tokoh-tokoh besar yang pernah hidup. Itulah yang kemudian disebut dengan istilah delusion of grandeur (delusi/waham kebesaran). Delusi yang sering dijumpai pada penderita skizoprenia adalah bahwa oranglain bermaksud buruk terhadap dirinya. Delusi jenis ini kemudian dikenal dengan sebutan delusion of persecution (delusi/waham persekusi). Keyakinan ini sangatlah mengganggu. Keyakinan kuat seperti percaya bahwa sekelompok anggota teroris berusaha menculik dirinya, atau percaya bahwa seseorang berniat mensabotase dirinya dalam suatu perlombaan, atau percaya bahwa sekelompok orang berusaha membunuhnya, menciptakan banyak kecemasan yang sangat mengganggu.
Delusi-delusi lain yang lebih jarang, termasuk Capgras Syndrome yang dimana penderita percaya bahwa seseorang yang mereka kenal telah digantikan oleh “kopian/salinan”, kemudian Cotard’s syndrome yang dimana penderita percaya bahwa bagian tertentu dari tubuhnya (semisal otak), telah mengalami perubahan dengan cata yang muskyil.
Halusinasi
Halusinasi merupakan gejala-gejala psikotik dari gangguan perseptual dimana berbagai hal dilihat, didengar, atau diindra meskipun hal itu tidak riil adanya. “See things that others can not” (Melihat apa yang oranglain tidak lihat) adalah gambaran lain tentang halusinasi yang diderita oleh para penderita skizoprenia. Mendengar seseorang memanggil namanya, melihat hal-hal yang sebenarnya tidak ada berlangsung teratur dan tampak benar-benar nyata oleh penderita skizoprenia.
Halusinasi dapat melibatkan indera yang mana saja, meskipun mendengar sesuatu yang sebenarnya tidak ada atau auditory hallucination (halusinasi pendengaran) merupakan halusinasi yang paling sering dialami oleh penderita skizoprenia. Penderita skizoprenia yang mengalami halusinasi biasanya sedang tidak melakukan apa-apa, duduk dan tersenyum seolah-olah sedang mendengarkan seseorang sedang berbicara di dekatnya, meskipun tidak ada siapa-siapa.
Penelitian menarik tentang halusinasi ini menggunakan teknik brain-imaging yang canggih untuk menetapkan lokasi fenomena ini dalam otak. Dengan menggunaka Single Photon Emission Computed Tomography (SPECT) untuk mempelajari aliran darah cerebral para laki-laki penderita skizoprenia. Mereka menemukan bahwa bagian otak yang paling aktif saat mengalami halusinasi adalah broca’s area. Temuan ini mengejutkan karena broca’s area tersebut diketahui terlibat dalamn produksi pembicaraan. Penelitian ini mendukung teori yang mengatakan bahwa orang-orang yang sedang mengalami halusinasi tidak mendengar suara-suara oranglain tetapi mendengarkan pikiran atau suaranya sendiri dan tidak dapat mengenali perbedaannya. Mereka mungkin mengalami defisit pembicaraan yang mengakibatkan terjadinya distorsi ini.
Gejala Negatif Penderita Skizoprenia
Gejala-gejala yang dimaksud disebut negatif karena merupakan kehilangan dari ciri khas atau fungsi normal seseorang. Termasuk kurang atau tidak mampu menampakkan/mengekspresikan emosi pada wajah dan perilaku, kurangnya dorongan untuk beraktivitas, tidak dapat menikmati kegiatan-kegiatan yang disenangi dan kurangnya kemampuan bicara (alogia).
Avolisi
Yaitu ketidak mampuan untuk memulai atau mempertahankan berbagai macam kegiatan. Penderita gejala ini (sering disebut apathy) menunjukkan minat yang rendah untuk melakukan sesuatu, bahkan fungsi-fungsi dasar sehari-hari, termasuk kesehatan pribadi.
Alogia
Alogia mengacu pada relative ketiadaan pembicaraan. Orang dengan alogia merespons pertanyaan dengan jawaban pendek dan tampak tidak tertarik untuk bercakap-cakap. Sebagian peneliti menyatakan bahwa penderita alogia mungkin mengalami kesulitan untuk menemukan kata-kata yang tepat untuk memformulasikan pikirannya (Alpert, Clark, dan Pouget,1994). Kadang-kadang alogia berbentuk komentar yang terlambat atau respons yang lambat terhadap pertanyaan yang diajukan.
Anhedonia
Yaitu ketiadaan perasaan senang yang dialami oleh sebagian penderita skizofrenia. Anhedonia memberikan isyarat tidak peduli terhadap kegiatan-kegiatan yang biasanya dianggap menyenangkan, termasuk makan, interaksi sosial dll.
Pendataran afek
Penderita skizofrenia dengan afek datar tidak memperlihatkan emosi pada saat mereka mestinya memperlihatkan emosinya, menatap dengan pandangan kosong pada lawan bicara, berbicara datar tanpa nada, dan tampak terpengaruh oleh segala hal di sekitarnya. Namun, meskipun tidak bereaksi secara terbuka terhadap situasi emosional,mereka mungkin memberikan respons secara batiniah. Para peneliti menyimpulkan bahwa afek datar dalam skizofrenia mungkin merepresentasikan kesulitan dalam mengalami emosi, bukan karena mereka tidak berperasaan.
Gejala-Gejara Disorganisasi
Disorganized Symptoms (Gejala-gejala disorganisasi) adalah gejala yang meliputi berbagai macam perilaku eratik yang mempengaruhi pembicaraan, perilaku motorik, dan reaksi emosional.
Disorganisasi dalam pembicaraan
Ngobrol dengan penderita skizofrenia dapat membuat sangat frustasi. Sangat sulit untuk mendapatkan informasi yang relevan darinya. Para penderita skizofrenia sering tidak memiliki wawasan (insight), kesadaran bahwa mereka memiliki masalah. Selain itu, mereka mengalami associative spliting (asosiasi yang terpecah) dan cognitive slippage (kognisi yang terpeleset) istilah dari Eugen Bleuler dan Paul Meehl. Kadang-kadang mereka melompat-lompat dari satu topik ke topik lain dan pembicaraan mereka kadang-kadang tidak logis. DSM IV-TR menggunakan istilah disorganized speech (disorganisasi dalam berbicara) untuk mendeskirpsikan masalah-masalah komunikasi seperti itu.
Afek yang tidak pas dan perilaku yang terdisorganisasi
Kadang-kadang penderita skizofrenia memperlihatkan inappropriate affect (afek yang tidak sesuai), tertawa atau menangis pada saat yang tidak tepat. Kadang-kadang mereka memperlihatkan perilaku yang aneh seperti menimbun barang-barang atau bertingkah tidak lazim di depan umum. Penderita skizofrenia terlibat berbagai perilaku “aktif” lain yang biasanya dianggap tidak lazim. Contoh, katatonia adalah slah satu gejala paling ganjil pada sebagian penderita skizofrenia. Katatonia melibatkan disfungsi motorik yang berkisar mulai dari agitasi sampai imobilitas. Pada sisi aktif kontinum, sebagian orang berjalan mondar-mandir dengan bergegas atau menggerak-gerakkan jari-jemari atau lengannya secara stereotipik. Pada ujung kontinum yang berlawanan, orang diam tak bergerak dengan postur yang tidak lumrah, seolah-olah takut sesuatu yang mengerikan akan terjadi bila mereka bergerak disebut catatonic immobility atau imobilitas katatonik.
Untuk menerima diagnosis skizofrenia, seseorang harus menunjukkan dua atau lebih gejala positif, negatif, dan/atau terdisorganisasi dengan porsi yang besar selama paling sedikit 1 bulan.
Tipe-Tipe Skizofrenia
1. Tipe Paranoid
Tipe skizofrenia di mana gejala-gejalanya terutama melibatkan delusi dan halusinasi, perilaku motorik dan emosionalnya relatif utuh. Pada umumnya tidak mengalami disorganisasi dalam pembicaraan. Biasanya memiliki prognosis yang lebih baik dibandingkan penderita skizofrenia lainnya. Kriteria tipe ini menurut DSM-IV-TR:
a) Preokupasi dengan satu macam waham atau lebih.
b) Halusinasi pendengaran yang sering tetapi tidak disertai adanya disorganisasi dalam pembicaraan.
c) Disorganisasi perilaku/ perilaku katatonik/ perilaku yang tidak pas, mencolok.
2. Tipe Terdisorganisasi
Tipe skizofrenia yang ditandai oleh percakapan dan perilaku yang terdisrupsi, delusi dan halusinasi yang tidak bertema, serta afek datar atau “dungu”. Gejala-gejalanya:
a) Tertawa dungu di saat yang tidak tepat.
b) Dapat menghabiskan banyak waktu untuk memandangi dirinya di cermin.
c) Sama seperti tipe paranoid, saat mengalami delusi atau halusinasi, mereka cenderung terfragmentasi.
d) Menunjukkan tanda-tanda kesulitan sejak dini.
e) Masalah sering bersifat kronis, jarang menunjukkan remisi (perbaikan gejala).
3. Tipe Katatonik
Tipe skizofrenia yang didominasi oleh gangguan motorik (rigiditas, agitasi, tingkah laku yang ganjil). Gejala-gejala :
a) Kadang-kadang memperlihatkan tingkah ganjil dengan tubuh dan wajahnya.
b) Aktivitas motorik yang eksesif tanpa perilaku yang jelas.
c) Negativisme ekstrem, seperti postur tubuh yang kaku dan tidak mau diubah, mutisme (membisu).
d) Echoing (menirukan dengan cara yang persis sama, persis seperti gema) kata atau gerakan orang lain.
4. Skizofrenia tipe tak terbedakan
Meliputi orang-orang dengan gejala utama skizofrenia tetapi tidak memenuhi kriteria tipe paranoid, terdisorganisasi/hebrefenik, atau katatonik.
5. Skizofrenia tipe residual
Kategori diagnostik untuk orang-orang yang pernah mengalami setidaknya satu episode skizofrenia, yang sudah tidak lagi memperlihatkan gejala-gejala utamanya tapi masih memperlihatkan beberapa pikiran yang ganjil dan menarik diri secara sosial.
(Reza Yuni Dhea Made Carrisdz Tyas Sinta Lusi Ratna Engkit -- PsiUGM'10)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar