Tampilkan postingan dengan label blusukan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label blusukan. Tampilkan semua postingan

Selasa, 05 Februari 2013

Road to Tangkuban Perahu #2

Liburan semester ganjil ini saya habiskan di Bandung bersama teman SMA saya, sebut saja namanya Tiwi. Liburan yang hanya dihabiskan dengan jalan-jalan ke Mall adalah sungguh membosankan bagi saya juga kawan saya. Akhirnya kami mulai searching di Google mencari tempat wisata yang tidak jauh dari kost kakak saya di daerah Lembang. ada beberapa alternatif sebenarnya yakni Gunung Tangkuban Perahu, Air Terjun Maribaya, Tempat Pemandian Air Panas Ciater dll. Akhirnya kami memutuskan mengunjungi Tangkuban Perahu. Kalau saya sih sebenarnya tidak lagi penasaran dengan wujud Tangkuban Perahu, tapi teman saya sepertinya ingin sekali ke sana. Yasudah kami pun langsung searching lagi tentang tangkuban Perahu dan angkot apa yang bisa mengantarkan kami sampai di sana. 

Dari Lembang ternyata saya harus menaiki angkot berwarna kuning jurusan Lembang-Cikole. Ohya sekedar info jika Anda adalah turis domestik seperti saya, dari Stasiun Bandung, Anda dapat naik angkot St.Hall Lembang biasanya berwarna putih kusam dan turun sebelum Perempatan Pasar Lembang dengan ongkos Rp 6.000. Di situ sudah banyak angkot jurusan Cikole (warna kuning) yang standby di pinggir jalan.

Waktu itu kami berjalan menuju Jalan Raya Lembang tepat di depan Masjid Agung Lembang. Belum sempat menyeberang jalan dan menunggu angkot ternyata di seberang jalan sudah ada angkot kuning yang berhenti menunggu kami. Melihat angkot tersebut, saya tidak ada sedikitpun hasrat untuk menaikinya karena angkot tersebut tidak bertuliskan Cikole seperti yang kami maksud. Kami pun tetap diam berdiri di samping angkot tersebut. Lagi-lagi angkotnya tidak mau pergi dan akhirnya muncul suara dari seorang penumpang angkot tersebut,"Prahu neng?" Tanpa pikir panjang pun saya akhirnya mengangguk dan bergegas masuk angkot tersebut. 

Ada lima orang dalam angkot tersebut, yakni saya, Tiwi, Pak sopir dan dua penumpang lainnya. Kami berdua begitu menikmati perjalanan tersebut. Sampai akhirnya penumpang tinggal kami berdua. Angkot dengan kecepatan sedang terus melaju jalan menuju Tangkuban Perahu. Di sepanjang jalan yang agak naik itu kami melihat bukit-bukit , kebut teh, dan akhirnya semakin naik kami melewati hutan pinus. Dari hutan pinus itu saya mulai curiga, tidak ada angkot satupun yang melintas di jalan itu selain angkot kami. Menurut kakak saya angkot Cikole akan berhenti di terminal kecil Cikole. Tapi kenapa saya tak mendapati angkot tersebut berhenti di sebuah terminal?. Yang saya ingat juga Tangkuban Perahu sudah tidak jauh lagi kalau dari hutan pinus itu. Benar tak lama kemudian kami dihadapkan pada plang Tangkuban Perahu. Baru setelah itu Pak Sopir angkat bicara "Neng ongkosnya bapak pas-in aja 50 ribu, kalau yang lain mah bisa sampe 60-70 ribu sampe atas" Dan kami semakin sadar bahwa pak sopir itu memang khusus mengantarkan kami menuju Tangkuban Perahu.  Kami belum sempat menyahut tiba-tiba kami dihadapkan loket retribusi masuk dan pak sopir berkata lagi "26 ribu neng karcisnya buatdua orang" (Tiket Tangkuban Prahu Rp 13.000/orang) Saya pun langsung memberikan sejumlah uang untuk membeli tiket tersebut pada pak sopir. 

Baru setelah itu kami melanjutkan dialog negosiasi dengan pak sopir. kami menawar berapapun, pak sopir tetap dengan harga awal yakni Rp 50.000. Pak sopir pun menginfokan lagi bahwa jarak dari tiket masuk ke Gunung tangkuban Perahu masih sekitar 7 km-an dengan jalan menanjak dan berliku. Dan pak sopirnya pun bilang saat pulang nanti kami pasti akan kesulitan kalau cari angkot sehingga pak sopir menawarkan untuk menunggui kami dan membandrol ongkos Rp 100.000 pulang-pergi untuk kami berdua. Kami masih berpikir dan berembug apakah kita pulang dengan angkot yang sama atau jalan kaki. Tapi jika melihat keadaan jalan yang ber-kilometer-panjangnya kok rasanya harus mikir dua kali kalau mau jalan kaki. Padahal sebelum berangkatpun kita sudah sepakat kalaupun harus berjalan kaki jauh pun kita akan jalani. Tapi nyatanya kami lebih memilih memanjakan diri duduk di angkot. Hahah. 

Kami masih berembug sebelum akhirnya sampai Di Gunung Tangkuban Prahu. Pertimbangan selanjutnya adalah ulasan perjalanan yang sempat kami baca di sebuah blog. Ya katanya penulis blog tersebut ditawari mobil omprengan dari gapura masuk Tangkuban Prahu menuju Tangkuban Prahu seharga Rp 63.000 per orang dan itu sudah termasuk tiket. Mahal kan? Karena pertimbangan itu lah kami akhirnya memutuskan untuk meminta pak sopir menunggu kami saat di Tangkuban Perahu dengan kata lain kami membayar Rp 100.000,00 untuk perjalanan pulang-pergi lembang-Tangkuban Perahu artinya per orang keluar uang Rp 50.000,00.  Mahaaaal !


Akhirnya kami sampai juga di Tangkuban Perahu. Pemandangan kawah yang khas dengan background langit biru semburat putih. Indah sekali. Saya tak mau panjang lebar menceritakan keindahan Tangkuban Perahu karena foto-foto di bawah ini yang akan menerangkan betapa indahnya Tangkuban Perahu 



Tiwi mejeng, ini background terfavorit bagi pengunjung yang mau foto,  harus antre man..

Saya ikut mejeng, bagus sih awannya


Ini nih salah satu kawahnya


Banyak bule loh
Plang Kawah Upas, Goa, Air Keramat
Kanan kiri banyak kios yang menjual macam-macam oleh-oleh dan cinderamata

Satu jam kemudian kami pun memutuskan untuk pulang. Kami hampiri angkot kuning tadi. Layaknya supir pribadi, pak sopir ternyata masih sabar menunggu kami sang majikan. ahahaha.. Good bye Tangkuban Perahu..

Oya sekedar catatan: sepulang dari Tangkuban Perahu saya cerita tentang angkot Rp 100.000 itu pada kakak saya, dan saya ditertawakan habis-habisan. Ongkos angkot segitu termasuk super mahal menurut kakak saya dan mending nyewa motor. Ohhhh

Senin, 21 Januari 2013

Sri Gethuk nan Eksotis


Saya dan rekan saya sudah mupeng Srigethuk waktu itu. Anda tahu Srigethuk? Makanan tradisional Jawa  yang terbuat dari ketela? O tentu bukan, kalau itu gethuk saja namanya. Penasaran? Kalau begitu sama seperti saya saat banyak bertebaran info di internet tentang keseksian Srigethuk. Hah seksi? Ini Mbak Sri mana yang diomongin? O bukan, yang kami maksud bukanlah sesosok wanita seksi. Oke bagi Anda yang masih penasaran saya tidak akan membiarkan Anda terlalu lama terpenjara dalam ruang penasaran.


Srigethuk adalah sebuah air terjun yang terletak di desa Bleberan, Playen, Gunungkidul. Kalau dari Jogja, Anda bisa susuri Jalan Wonosari menuju arah Playen. Perjalanan begitu menyenangkan manakala kita lihat pemandangan Yogyakarta dari Bukit Bintang. Pepohonan nan hijau di kanan kiri jalan yang menanjak dan menikung juga akan menyapa kita dengan ramah. Setelah sampai di kawasan hutan Tahura berarti kita sudah masuk di kecamatan Playen. Akan ada beberapa plang penunjuk bertuliskan Srigethuk. Jangan kaget bila jalanan yang Anda lewati tidak semulus di kota. Namun semuanya akan terbayarkan oleh indahnya Srigethuk. Yakin!


Ketika hampir sampai di Srigethuk Anda akan ditarikk retribusi, dengan Rp 5.000,00 Anda mendapat dua objek sekaligus yakni Air Terjun Srigethuk dan Goa Rancang. Setelah sampai di kawasan Sri Gethuk, ada dua alternatif  untuk sampai di air terjun. Kita bisa menggunakan semacam rakit yang disediakan pengelola menyusuri sungai Oyo sampai ke air terjun dengan biaya Rp 10.000,00 pulang-pergi. Cukup mengesankan memang ketika naik rakit/perahu menyusuri sungai yang sekilas seperti miniatur Grand Canyon. Atau kita juga dapat sampai ke air terjun dengan berjalan menyusuri pematang sawah.  Waktu itu pun saya mencoba kedua alternatif, pergi jalan kaki dan pulang naik rakit.



Sesampai di air terjun, saya yakinAnda akan sangat menikmati wisata Srigethuk. Jangan takut untuk berbasah-basahan karena di dekat air terjun ada jasa yang menyewakan bilik untuk ganti baju dan juga penitipan barang. Setelah puas bermain air jangan lupa nikmati air kelapa muda dengan ditemani kudapan gethuk khas Srigethuk. Selamat berwisata..

Minggu, 05 Februari 2012

Menapak Nglanggeran di Kala Hujan


Hari ini, lelah tak terasa. Semua terbayarkan oleh cantiknya gunungan batu-batu purba dengan selipan pohon-pohon rimbun yang tinggi menjulang. Yah, kami bertiga sudah merencanakan sebulan yang lalu untuk menjamah entah sebuah bukit atau gunung purba mereka menyebutnya. Tapi baru saat ini kami diberi kesempatan menikmati ciptaan-Nya itu. Bukit tersebut terletak di Desa Nglanggeran Patuk Gunungkidul. Cuma itu yang saya tahu, profil secara geologis dan lain-lain entahlah saya tak tahu (mungkin bisa cari tahu di sini). 

Oke, saya akan ceritakan apa yang kami alami saja. Setengah sebelas kami sampai di Kawasan ekowisata. Langsung kami menghampiri mas-mas penjaga loket untuk membayar tiket masuk dan parkir. Namanya mas-mas pasti ya masih muda (penting nggak sih). Yang saya tahu sepertinya mas-mas tadi itu adalah warga setempat (karang taruna) yang diberdayakan untuk mengelola gunung tersebut. Acungkan jempol lek dis untuk pemuda pemudi Nglanggeran!!! (y) *apaan sih kehebohan deh. Dua makhluk tak bernyawa (baca:motor) dan tiga makhluk bernyawa (baca:kami) dikenai biaya Rp 17.000,00 entah perincian berapa harga tiket masuk dan berapa harga parkir aku lupa. 

Kami mulai mendaki dalam keadaan langit yang cerah wal afiat. Meski belum pada makan, kami merasa sudah memiliki energi yang cukup untuk menginjakkan kaki di puncak Nglanggeran. Kenapa? ya. karena  puncak Nglanggeran menjanjikan pesona awan dan alam maha karya sang Kuasa, dan ini memberikan semangat untuk kami segera menaikinya.

Batu dan juga lempung menjadi komponen utama bukit nan seksi ini. jalur pendakian tidak terlalu sulit karena  sudah ada anak tangga alakadarnya dan benda penolong seperti tali. Saat naik tanah lempung terlihat segar dan sisa hujan semalam menyisakan tetes air di dinding batu maupun didedaunan. Dan lelah belum terasa.


Perjalanan kami lanjutkan. Tampak di depan kami gang sempit dengan anak tangga terbuat dari kayu. Kami pun bergegas naik. Merangkak naik di antara rekahan batu yang kira-kira lebarnya 60 cm sungguh menyenangkan terlebih lagi terkena tetes-tetes air dari bebatuan atasnya.


Seperempat perjalanan, kami melihat hamparan cukup luas untuk menikmati bentangan sawah di bukit-bukit dengan model terasering. Kami pun istirahat sejenak di situ. Meneguk air mineral dan menikmati roti isi cokelat. Tampak di depan saya menara-menara pemancar stasiun televisi berdiri kokoh. Hoyeah, ini yang namanya surga dunia. Disuguhi terpaan angin bukit dan panorama yang maha dahsyatnya. Tapi mengapa tiba-tiba mendung menggantung mengisyaratkan akan turun hujan?.Angin juga semakin kencang. Kami mencoba untuk tidak panik. Air hujan adalah hal biasa jika ingin bersahabat dengan alam (ecieeh..sok pecinta alam).




Kami segera mengeluarkan kostum hujan. Ingin memastikan apakah ini hujan benar-benar hujan, kami pun berdiam sejenak. Anginnya kencang sekali namun rintik hujan baru sebesar telur kutu rambut. Dua yang lainnya duduk merenung, saya pun berdiri dan mencoba mengabadikan pose model galau mereka.


Oh ternyata mendung benar-benar membawa hujan. Sangat merugi jika waktu hanya dihabiskan untuk duduk melihat hujan. Kami kembali melanjutkan perjalanan di bawah naungan ponco. Hujan pun semakin deras. Lempung pun semakin becek dan licin. Akhirnya setelah kira-kira satu jam, kami sampailah ke puncak Nglanggeran. Tetap dengan rintik hujan meski sudah sedikit lebih tipis...YEAHH  SUBHANALLOH NIKMAT NGLANGGERAN DI TENGAH RINAI HUJAN. Waktunya meng-gak jelas-kan diri :) see  you :D




04/02/12