Hari ini, lelah tak terasa. Semua terbayarkan oleh cantiknya gunungan batu-batu purba dengan selipan pohon-pohon rimbun yang tinggi menjulang. Yah, kami bertiga sudah merencanakan sebulan yang lalu untuk menjamah entah sebuah bukit atau gunung purba mereka menyebutnya. Tapi baru saat ini kami diberi kesempatan menikmati ciptaan-Nya itu. Bukit tersebut terletak di Desa Nglanggeran Patuk Gunungkidul. Cuma itu yang saya tahu, profil secara geologis dan lain-lain entahlah saya tak tahu (mungkin bisa cari tahu di sini).
Oke, saya akan ceritakan apa yang kami alami saja. Setengah sebelas kami sampai di Kawasan ekowisata. Langsung kami menghampiri mas-mas penjaga loket untuk membayar tiket masuk dan parkir. Namanya mas-mas pasti ya masih muda (penting nggak sih). Yang saya tahu sepertinya mas-mas tadi itu adalah warga setempat (karang taruna) yang diberdayakan untuk mengelola gunung tersebut. Acungkan jempol lek dis untuk pemuda pemudi Nglanggeran!!! (y) *apaan sih kehebohan deh. Dua makhluk tak bernyawa (baca:motor) dan tiga makhluk bernyawa (baca:kami) dikenai biaya Rp 17.000,00 entah perincian berapa harga tiket masuk dan berapa harga parkir aku lupa.
Kami mulai mendaki dalam keadaan langit yang cerah wal afiat. Meski belum pada makan, kami merasa sudah memiliki energi yang cukup untuk menginjakkan kaki di puncak Nglanggeran. Kenapa? ya. karena puncak Nglanggeran menjanjikan pesona awan dan alam maha karya sang Kuasa, dan ini memberikan semangat untuk kami segera menaikinya.
Batu dan juga lempung menjadi komponen utama bukit nan seksi ini. jalur pendakian tidak terlalu sulit karena sudah ada anak tangga alakadarnya dan benda penolong seperti tali. Saat naik tanah lempung terlihat segar dan sisa hujan semalam menyisakan tetes air di dinding batu maupun didedaunan. Dan lelah belum terasa.
Perjalanan kami lanjutkan. Tampak di depan kami gang sempit dengan anak tangga terbuat dari kayu. Kami pun bergegas naik. Merangkak naik di antara rekahan batu yang kira-kira lebarnya 60 cm sungguh menyenangkan terlebih lagi terkena tetes-tetes air dari bebatuan atasnya.
Seperempat perjalanan, kami melihat hamparan cukup luas untuk menikmati bentangan sawah di bukit-bukit dengan model terasering. Kami pun istirahat sejenak di situ. Meneguk air mineral dan menikmati roti isi cokelat. Tampak di depan saya menara-menara pemancar stasiun televisi berdiri kokoh. Hoyeah, ini yang namanya surga dunia. Disuguhi terpaan angin bukit dan panorama yang maha dahsyatnya. Tapi mengapa tiba-tiba mendung menggantung mengisyaratkan akan turun hujan?.Angin juga semakin kencang. Kami mencoba untuk tidak panik. Air hujan adalah hal biasa jika ingin bersahabat dengan alam (ecieeh..sok pecinta alam).
Kami segera mengeluarkan kostum hujan. Ingin memastikan apakah ini hujan benar-benar hujan, kami pun berdiam sejenak. Anginnya kencang sekali namun rintik hujan baru sebesar telur kutu rambut. Dua yang lainnya duduk merenung, saya pun berdiri dan mencoba mengabadikan pose model galau mereka.
Oh ternyata mendung benar-benar membawa hujan. Sangat merugi jika waktu hanya dihabiskan untuk duduk melihat hujan. Kami kembali melanjutkan perjalanan di bawah naungan ponco. Hujan pun semakin deras. Lempung pun semakin becek dan licin. Akhirnya setelah kira-kira satu jam, kami sampailah ke puncak Nglanggeran. Tetap dengan rintik hujan meski sudah sedikit lebih tipis...YEAHH SUBHANALLOH NIKMAT NGLANGGERAN DI TENGAH RINAI HUJAN. Waktunya meng-gak jelas-kan diri :) see you :D
04/02/12












Tidak ada komentar:
Posting Komentar