Kamis, 17 Januari 2013

DAC: Sempurna, adalah kata-kata yang menyakitkan bagi kami




Apa salah kami lahir di dunia
Kami juga lahir dari buah cinta
Sama seperti anak-anak Adam dan Hawa
Sempurna, adalah kata-kata yang menyakitkan bagi kami
Seperti tombak yang ditusukkan ke ulu hati kami

Apa salah kami lahir di dunia ini
Kami juga lahir dari buah cinta
Sama seperti anak-anak Adam dan Hawa
Sempurna hanya untk orang normal dan tidak sempurna untuk tuli

Apa salah kami lahir di dunia ini
Wajah-wajah sinis yang melihat kami
Itu juga sama menyakitkan
Tapi kami masih tetap yakin
Bahwa kami masih memiliki kemampuan

Begitulah lirik “Sempurna” yang dinyanyikan BeatBoxJogjakarta bersama rekan-rekan yang tergabung dalam DAC (Deaf Art Community).  Lirik  suara hati yang begitu menyentuh para pendengar sebagai wujud eksistensi kawan-kawan DAC sebagai penyandang tunarungu. Pada pagelaran seni yang diselenggarakan dalam rangka HUT DAC ke-8 ini, mereka begitu lincah menampilkan performa terbaik mereka. Bertempat di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 28 Desember 2012, mereka seakan ingin menampilkan bahwa jiwa seni juga dimiliki oleh mereka yang tuna rungu.  Mungkin kita tidak akan habis pikir, bagaimana bisa tunarungu memainkan jimbe dengan cukup berirama, tapi itulah yang mereka tampilkan. Dengan penuh totalitas dan percaya diri mereka memainkan alat music jimbe.  Puisi  isyarat , pantomime, dan tarian hip-hop juga mereka suguhkan.

Di pentas seni yang Cuma-Cuma ini, saya semakin kagum ketika mengetahui kepedulian kawan-kawan DAC terhadap sesama. Meskipun mereka sendiri memiliki keterbatasan, tidak membuat mereka menunduk dan terdiam merenungi keterbatasan mereka tersebut. Lewat pentas besar bertajuk Aku ingin menjadi kupu-kupu colour of live itu mereka mengajak para penonton untuk menggalang dana untuk penyandang kanker. Pentas seni malam itu adalah pentas seni ++ menurut saya. Bagaimana tidak? Selain menyuguhkan karya seni, pentas tersebut juga menyelipkan nasihat besar bagi saya dan mungkin juga bagi semua penonton bahwa keterbatasan bukanlah sebuah halangan dalam berkarya, aku kamu bisa kita sama. Ini lah sentilan lembut bagi saya untuk mengubah perangai yang malas dalam diri saya. Terima kasih DAC. Saya tunggu penampilan kalian 28 Desember 2013. Proud of you!

Sabtu, 26 Mei 2012

Setengah jam Bersama Kernet Bus


Hari itu kuliah libur, bangun telat buah dari begadang semalam. Kulihat layar HP, ada beberapa sms yang intinya sama “Ratna, ayo, ditunggu” Rasa tak enak pun muncul, harus gerak cepat. Setelah siap berangkat ternyata motor tidak ada di tempat. Cukup lama aku menunggu, motor tak kunjung pulang. Sampai aku mendapat kabar bahwa teman yang lain sudah on the way. Yah, sudahlah tidak jadi ikut, toh kalau nyusul aku tak tahu jalan.  

Masih duduk termenung di ruang tamu, dengan pakaian rapi dan tas ransel di punggung. Sayang juga kalau sudah berbaju rapi tapi tidak jadi pergi. Dan tiba-tiba teringat tugas antropologi. Tugas wawancara kenek bus. Hyaa, tanpa pikir panjang segera ku pakai sepatuku dan bergegas ke pasar.

Ya, seperti mengulang masa putih abu-abu dulu, tiga tahun selalu berada di tempat ini demi menunggu satu-satunya angkutan umum yang tepat berhenti di depan SMA ku dulu. Hari itu aku pun menunggu bus yang sama demi bisa berbincang dengan  pak kenek. Setelah limabelas menit menunggu, akhirnya dating juga. Segera aku bergegas masuk. Sepi memang.  Di dalam bus hanya ada aku d satu penumpang lain.Bagaimana tidak sekarang semua orang mengendarai motor.

Hm, seperti biasa, busnya masih lama ngendon di depan pasar. Di bangku paling belakang aku duduk agar dapat melancarkan aksiku mendekati pak keneknya. Setelah beberapa saat kemudian supir dan keneknya masuk bus. Oops mas keneknya gahar.. telinga ber-anting dan tangan ber-tatto. Tenang, tidak takut, badannya kecil kok.haha..

Aku pun mulai melakukan building raport, istilahnya basa-basi lah sebelum menuju ke inti pembicaraan. Masnya menanggapi dengan welcome. Dengan bahasa Jawa Ngoko aku mulai bertanya-tanya.
…..
Aku        : Biasane sedinane oleh pira Mas?
Mas       : Wah yo ra tentu Mbak. Paling pol-pol e biasane yo 300-an. Urung kui disetorke juragane    150, nggo ngisi solar 120.
Aku        : la terus sampean nggowo bali duit piro Mas?
Mas       : biasane yo 25, perkoro yo dong-dong nek gek pas sepi kae blas ra gowo bali duit. Entek nggo setor ro solar.
Aku        : 25 kui nek nggo bensin,mangan ro rokok ngono, terus bali gowo duit piro?
Mas       : bok, mbak. Wes ra nggowo opo-opo. Entek.
Aku        : seneng lan susah e dadi kenek opo Mas?
Mas       : susah e akeh mbak, mangkat jam 3 esuk, ngecek kondisi mesin, mangkat ngenek, bali jam 5. Urung ngko nek penumpange sepi, hasil e entek nggo setor, mulih ra gowo opo-opo. Nek senenge yo iso ndelok ngendi-endim, ndelok uwong, oleh hawa ora gur lungguh neng njero kantor.
Aku        : sok stress ora sih mas mergo gawean ngono?
Mas       : a yo digawe semeleh mbak, rejeki wis diatur sik kuasa kok. Digawe penak.
Aku        : biasane hiburanne ngopo mas nek bar ngenek ngono?
Mas       : yo paling mung kumpul-kumpul ro kenek liane, ngopi-ngopi, ngono we njuk mari Mbak.
Aku        : :D, oiyo Mas, asmanipun sinten?
Mas       : Sodron Mbak.
Aku        : sinten? Sodron?
Mas       : yo, S O D R O N Z
Aku        : hehehe, nganggo Z
……..

Setelah berbincang-bincang dari pasar Godean hingga Pojok Beteng, aku mendapatkan banyak hal dari mas kenek tadi:
  1.        Hidup ini harus bekerja keras karena “Sesungguhnya Allah SWT sangat menyukai hamba-Nya yang Mukmin dan berusaha”. (HR. Thabrani dan Baihaqi dari lbnu ‘Umar)
  2.        Berjuang untuk selalu bangun pagi untuk menyambut rizki dari Alloh. Seperti sabda Rasulullah saat melihat putrinya masih terlentang di tempat tidurnya di pagi hari,”Putriku, bangunlah dan saksikanlah kemurahan hati Tuhanmu, dan janganlah menjadi seperti kebanyakan orang. Alloh membagikan rizkinya setiap hari pada waktu antara mulai subuh sampai terbit matahari” (H.R Al-Baihaqi).
  3.        Harus selalu bersyukur atas nikmat Alloh, Karena “sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS Ibrahim:7)
  4.      Serta qonaah atau nerimo. ‘Dengan sifat qonaah maka sama seperti raja dunia’, begitu kata imam Syafi’i

Senin, 12 Maret 2012

Biografi: Bandura

Bagi orang-orang yang menggeluti bidang psikologi, nama Bandura pasti tidak asing lagi bagi mereka. Tokoh yang termasuk aliran behavioristik ini  lahir di Mandure, kota kecil di dataran rendah sebelah utara Alberta, pada tanggal 4 Desember 1925. Bandura adalah anak terakhir dari lima bersaudara.

Oleh keluarganya, Bandura dididik menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Apalagi dia sekolah tingkat SMA di sebuah kota kecil yang hanya memiliki sedikit guru. Situasi ini tidak menjadikannya malas bersekolah. Justru menjadikannya semangat untuk menuntut ilmu.

Setelah lulus SMA, Bandura bekerja di tempat pembuatan jalan di Yukon selama musim panas. Di tempat kerjanya, Bandura mendapatkan berbagai pengalaman. Dia melihat berbagai karakter pekerja kasar. Ada dari mereka adalah para pengutang yang melarikan diri karena tak mampu membayar utang, laki-laki yang sudah bercerai namun masih harus memberi tunjangan mantan istri dan lain sebagainya. Melihat berbagai fenomena psikopatologi rekan kerjanya, Bandura tertarik belajar psikologi klinis.

Awalnya Bandura berniat untuk mendaftarkan kuliah di jurusan teknik. Selesai mendaftar di jurusan teknik yang disenanginya itu, dia berjalan-jalan keliling kampus. Hanya berniat coba-coba, Bandura masuk ke ruang kuliah psikologi. Sejak saat itu Bandura merasa nyaman dengan psikologi. Beberapa hari kemudian dia mengubah lamaran kuliahnya dari teknik menjadi psikologi. Dan akhirnya dia kuliah psikologi di University of British Columbia.

Setelah tiga tahun kuliah, ia lulus S1. Bandura melanjutkan S2 bidang psikologi klinis di University of Iowa. Dan pada tahun 1951, dia pun sudah bergelar Ph.D di usianya yang ke-27. Kemudian dia menghabiskan satu tahun berikutnya di Wichita Guidance Center untuk menyelesaikan tugas pasca-doctoralnya. Pada tahun1953, dia bergabung dengan fakultas psikologi di Stanford University, tempatnya berkarya seumur hidup. 

Di awal publikasinya, kebanyakan tulisan Bandura membahas psikoterapi dan tes Rorschach. Tahun 1959, buku yang ditulis bandura bersama Walters yang berjudul Adolescent Aggression terbit. Karya Bandura yang lain meliputi  Social Learning Theory (1977), Social Foundation of Though and Action (1986), dan Self Efficacy:The Excercise of Control (1997).

Pada tahun 1974, Bandura dipercaya menjadi presiden APA (American Psychological Association), kemudian pada tahun1980 menjadi presiden WPA (Western Psychological Association), dan menjadi presiden kehormatan Canadian Psychological Association tahun1999. Selain itu, Bandura juga banyak mendapat gelar kehormatan, salah satunya terpilih menjadi Rekanan Kehormatan American Academy of Arts and Science sejak 1980.

Berikut ini sekilas tayangan powerpoint tentang teori-teori Bandura
download di sini

Source: Feist & Feist. (2006).Theories of Personality.NewYork:McGraw Hill