Senin, 21 Januari 2013

Sri Gethuk nan Eksotis


Saya dan rekan saya sudah mupeng Srigethuk waktu itu. Anda tahu Srigethuk? Makanan tradisional Jawa  yang terbuat dari ketela? O tentu bukan, kalau itu gethuk saja namanya. Penasaran? Kalau begitu sama seperti saya saat banyak bertebaran info di internet tentang keseksian Srigethuk. Hah seksi? Ini Mbak Sri mana yang diomongin? O bukan, yang kami maksud bukanlah sesosok wanita seksi. Oke bagi Anda yang masih penasaran saya tidak akan membiarkan Anda terlalu lama terpenjara dalam ruang penasaran.


Srigethuk adalah sebuah air terjun yang terletak di desa Bleberan, Playen, Gunungkidul. Kalau dari Jogja, Anda bisa susuri Jalan Wonosari menuju arah Playen. Perjalanan begitu menyenangkan manakala kita lihat pemandangan Yogyakarta dari Bukit Bintang. Pepohonan nan hijau di kanan kiri jalan yang menanjak dan menikung juga akan menyapa kita dengan ramah. Setelah sampai di kawasan hutan Tahura berarti kita sudah masuk di kecamatan Playen. Akan ada beberapa plang penunjuk bertuliskan Srigethuk. Jangan kaget bila jalanan yang Anda lewati tidak semulus di kota. Namun semuanya akan terbayarkan oleh indahnya Srigethuk. Yakin!


Ketika hampir sampai di Srigethuk Anda akan ditarikk retribusi, dengan Rp 5.000,00 Anda mendapat dua objek sekaligus yakni Air Terjun Srigethuk dan Goa Rancang. Setelah sampai di kawasan Sri Gethuk, ada dua alternatif  untuk sampai di air terjun. Kita bisa menggunakan semacam rakit yang disediakan pengelola menyusuri sungai Oyo sampai ke air terjun dengan biaya Rp 10.000,00 pulang-pergi. Cukup mengesankan memang ketika naik rakit/perahu menyusuri sungai yang sekilas seperti miniatur Grand Canyon. Atau kita juga dapat sampai ke air terjun dengan berjalan menyusuri pematang sawah.  Waktu itu pun saya mencoba kedua alternatif, pergi jalan kaki dan pulang naik rakit.



Sesampai di air terjun, saya yakinAnda akan sangat menikmati wisata Srigethuk. Jangan takut untuk berbasah-basahan karena di dekat air terjun ada jasa yang menyewakan bilik untuk ganti baju dan juga penitipan barang. Setelah puas bermain air jangan lupa nikmati air kelapa muda dengan ditemani kudapan gethuk khas Srigethuk. Selamat berwisata..

Kamis, 17 Januari 2013

DAC: Sempurna, adalah kata-kata yang menyakitkan bagi kami




Apa salah kami lahir di dunia
Kami juga lahir dari buah cinta
Sama seperti anak-anak Adam dan Hawa
Sempurna, adalah kata-kata yang menyakitkan bagi kami
Seperti tombak yang ditusukkan ke ulu hati kami

Apa salah kami lahir di dunia ini
Kami juga lahir dari buah cinta
Sama seperti anak-anak Adam dan Hawa
Sempurna hanya untk orang normal dan tidak sempurna untuk tuli

Apa salah kami lahir di dunia ini
Wajah-wajah sinis yang melihat kami
Itu juga sama menyakitkan
Tapi kami masih tetap yakin
Bahwa kami masih memiliki kemampuan

Begitulah lirik “Sempurna” yang dinyanyikan BeatBoxJogjakarta bersama rekan-rekan yang tergabung dalam DAC (Deaf Art Community).  Lirik  suara hati yang begitu menyentuh para pendengar sebagai wujud eksistensi kawan-kawan DAC sebagai penyandang tunarungu. Pada pagelaran seni yang diselenggarakan dalam rangka HUT DAC ke-8 ini, mereka begitu lincah menampilkan performa terbaik mereka. Bertempat di Taman Budaya Yogyakarta pada tanggal 28 Desember 2012, mereka seakan ingin menampilkan bahwa jiwa seni juga dimiliki oleh mereka yang tuna rungu.  Mungkin kita tidak akan habis pikir, bagaimana bisa tunarungu memainkan jimbe dengan cukup berirama, tapi itulah yang mereka tampilkan. Dengan penuh totalitas dan percaya diri mereka memainkan alat music jimbe.  Puisi  isyarat , pantomime, dan tarian hip-hop juga mereka suguhkan.

Di pentas seni yang Cuma-Cuma ini, saya semakin kagum ketika mengetahui kepedulian kawan-kawan DAC terhadap sesama. Meskipun mereka sendiri memiliki keterbatasan, tidak membuat mereka menunduk dan terdiam merenungi keterbatasan mereka tersebut. Lewat pentas besar bertajuk Aku ingin menjadi kupu-kupu colour of live itu mereka mengajak para penonton untuk menggalang dana untuk penyandang kanker. Pentas seni malam itu adalah pentas seni ++ menurut saya. Bagaimana tidak? Selain menyuguhkan karya seni, pentas tersebut juga menyelipkan nasihat besar bagi saya dan mungkin juga bagi semua penonton bahwa keterbatasan bukanlah sebuah halangan dalam berkarya, aku kamu bisa kita sama. Ini lah sentilan lembut bagi saya untuk mengubah perangai yang malas dalam diri saya. Terima kasih DAC. Saya tunggu penampilan kalian 28 Desember 2013. Proud of you!